Archive for August, 2007
427. rutinitas
Rutinitas saya setiap malam adalah mengedit setumpuk naskah dari para koresponden dan kontributor daerah, yang jumlahnya 70 orang-an (plus para tuyul mereka). Masing-masing dari mereka, biasanya akan mengirim 1 hingga 3 naskkah, sebutlah rata-rata 2 naskah setiap hari. Jadi, kira-kira ada 140 berita yang saya pilih dan kemudian diperas lagi menjadi 40-45 item berita setiap harinya. Jumlah inilah yang akan kami gunakan untuk menutupi waktu tayang siaran yang panjangnya berkisar antara 95 hingga 105 menit, bergantung pada durasi iklan yang masuk ke program.
Kemudian, diantara kesibukan mengedit naskah, saya akan menyempatkan diri membuka email, dan juga mailing list. Ada yang agak berubah dalam urutan membuka. Biasanya saya mulai dari email pribadi, disini terdapat sejumlah email dari selain kawan-kawan kerja, data-data yang saya kumpulkan dari tempat lain, hingga peluang kerja dan curiculum vitae saya simpan dalam kotak surat saya ini. Kemudian saya akan lanjutkan dengan membuka kotak surat yang berisi email-email dalam milis pantau-narasi, pantau-komunitas, jurnalisme, penulislepas, dan beberapa artikel langganan yang berisi tips dan trick untuk belajar menulis. Barulah kemudian saya buka kotak surat yang berisi isu-isu hangat, kabar berita, gosip, keluhan, ilmu dari divisi pemberitaan trans tv, tempat saya bekerja. Terakhir, baru saya buka kotak-kotak surat lain, dari mulai milis komunitas kampus, scbarat, milis komunitas editor, milis komunitas scriptwriter, milis komunitas penikmat dokumenter, milis tabloid-rumah, property, dll dll dll…
Sekarang, urutannya berubah. Mungkin karena tempat saya bekerja sedang dalam kondisi hangat, maka milis internal divisi pemberitaan akan saya buka terlebih dahulu, dilanjut milis kampus, kotak surat untuk surat-surat pribadi, milis untuk belajar menulis dan baru milis-milis lain…
419. berbincang dengan adi
“Assalammualaikum” terdengar salam dari ujung sana. Suara seorang perempuan. Saya samasekali tidak mengenalnya. “Wa alaikumsalam” jawab saya sopan. “Masih ingat saya? Saya narasumber anda saat anda liputan di Kebumen. Inget ga? Tahun 2002. Kita sempat nginep sekamar. Duuhh…masa ga inget?” suara perempuan di ujung sana kenes. “Wah, itu 5 tahun lalu” kata saya. “Kok lupa, padahal saya tahu alamat rumahmu, istrimu dan anak-anakmu lo” ngingggg….buset kata saya dalam hati. Ucapannya tetap kenes, tapi isinya adalah ancaman. Saya pasang posisi bertahan. “O ya….memang sedang dimana sekarang” tanya saya, dan dia nyerocos “Saya di jakarta sekarang bla bla bla bla....”
***
Saya panggil dia adi. Mochammad Fatwadi. Teman lama. Kenal sejak kuliah tingkat pertama. Orang pintar. Pekerja keras. Dari dialah pertama kali saya dengar kabar tentang kematian 3 anak Aniek secara bersamaan. Dia telpon saya malam itu.
Sejak awal kuliah, dia tidak begitu bersemangat beraktivitas di lingkungan kampus, dia hanya akan beraktivitas di lingkungan jurusan. Di himpunan pun, HMP Pangripta Loka, dia hanya hadir saat saya memintanya untuk ikut. Baginya mengerjakan tugas kuliah lebih penting. Tapi saya tahu, dia adalah seorang keras yang akan berjuang sekeras mungkin untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. dan saya juga tahu, dia adalah seorang kawan. Perbincangan saya dengan dia beragam. Tetapi kebanyakan mengenai kuliah dulu dan pekerjaan sekarang.
Beberapa hari lalu saya bertemu dengannya, berbincang tentang kuliah double degreenya, MSc untuk Development Strategy di Urban and Regional Planning ITB Bandung, yang sudah dia selesaikan, dan MT, untuk Infrastructure Management di Groningen negeri Belanda, yang akan dia dapatkan 1 tahun dari sekarang. Dia berangkat tanggal 6 September nanti. Saya bertemu dengannya untuk katakan “have fun there friend!”
Di akhir perbincangan, saya lupa satu hal. Meminta foto-foto jaman kuliah dulu. Saya katakan padanya saya akan menulis mengenai kasus Aniek, dan saya membutuhkan foto-foto dokumentasi selama dia kuliah dulu, karena dia dan istrinya hampir selalu berada dalam satu kelompok tugas di kampus dulu. “Masih ada gak ya yung? Ntar gua tanya Erni yung“
***
Dan erni menelpon saya kemarin, dia mengerjai saya dengan mengaku sebagai salah satu narasumber saya di Kebumen dulu. Ampun de ni…hahahaha
413. berubah
Masih sulit untuk mengerti bahwa menulis adalah suatu tindakan untuk merubah. Mungkin karena masih terpancang di otak kanan saya bahwa you have to be yourself minded, in a positif way. Sejak tahun ke 3 kuliah, hampir selalu saya menyematkan satu frasa dari Adam Smith, mbahnya kapitalisme, di bagian bawah dari setiap email ataupun catatan kecil di scraptbook saya.
Saya tidak akan pernah menjadi seperti Fajroel Rahman, yang mengatakan dalam sesinya di kursus pantau narasi bahwa menulis adalah untuk merubah. Damn! It’s too damn hard. Even if it’s for myself. I flowing myself to the river of positive and negative. With a thousands of dead plankton on the air.
Hingga kinipun, beberapa proyek yang hendak saya kerjakan, lebih karena diri saya sendiri ingin untuk mengerjakannya. Entahlah hal itu penting atau tidak bagi orang lain. Mudah-mudahan yang hendak saya kerjakan berguna untuk orang lain.
“dont try to do good, let good emerge as byproduct of selfishness”
once again i yell it loud!!
413. bersiaplah kawan
Caption : Foto ini di ambil di depan lift keluar lantai 3 beerapa tahun lalu, tepatnya saya lupa. Latarbelakang warna warni yang terlihat adalah dinding yang ditempeli kupon makanan, seharga 7500 rupiah, kupon yang kami pergunakan untuk makan siang kami yang biasanya berharga sekitar 9000 rupiah sekali makan. Saat itu, kupon yang tertempel disana merupakan kupon-kupon yang tiba-tibanya jadi tidak berharga samasekali padahal masa berlakunya masih jauh dari kadaluarsa –saat itu kami diberi kupon sebulan sekali, disesuaikan dengan waktu hari kerja– Penyebabnya adalah terjadi penipuan besar-besaran. salah seorang pegawai di general affairs memalsukan kupon makan tersebut hingga perusahaan dirugikan sebesar 350 juta rupiah. Saya protes, kenapa gara-gara kesalahan orang lain, hak makan siang kami dihilangkan selama bulan berlaku?!!!
..karena saya hendak meloncat sekarang. Meloncat menuju ketinggian. Melepas tanah pijakan. Saya sedang bersiap sekarang.
..karena kesal saya sudah sangat jauh berkurang
409. ahmad sudirwan
Saya coba cari lewat pencari sakti google, dan saya tidak menemukan jejaknya disana. Saya merasa perlu melakukan searching ini, karena kemarin malam, saya mendengar kabar, bahwa Iwan Ahmad Sudirwan resmi “meminta” mengundurkan diri dari TRANS TV. Entah dengan kata “meminta” atau TANPA kata “meminta”. Jelas memberi arti yang jauh berbeda.
Saya ingat pertama kali saya mengenalnya lewat suaranya. Saat itu konferensi pers di Istana Negara. Saat itu Gus Dur memegang posisi sebagai RI-1. Tiba-tiba di sebelah kanan saya, di ujung sana, sambil mengacungkan tangan seseorang memanggil untuk bertanya “GUS…” suara yang luar biasa…tidak ada reporter lain yang bersuara sebesar dan seberat itu tapi tetap dengan intonasi yang enak didengar, bukan intonasi berteriak.
Caption : iwan Ahmad Sudirwan, bertopi, berfoto bersama band dangdut lantai 3 (taken from http://satrioarismunandar6.blogspot.com/)
Iwan Ahmad Sudirwan, IAS, kepala divisi news trans tv sejak tahun 2001, melengkapi Riza Primadi, RP, sebagai direktur pemberitaan saat itu. IAS mengurusi urusan anak-anak ke dalam, sementara RP lebih mengurusi urusan bapak-bapak di luar.
Tak lama berselang setelah mendengar suaranya, saya kembali bertemu, lebih tepatnya berpapasan sejenak dan sempat bersalaman untuk pertama kalinya, di markas lama Trans TV, sebuah bedeng kontraktor. Saat itu gedung Trans TV ynag berlantai 9, tanpa lantai 4, tapi diganti lantai 3A, masih belum berdiri. Yang ada hanya warung indomie khas lokasi pembangunan gedung di belakangnya. Hamburan semen debu dan lumpur masih berserak di udara. Ya…apatah lagi gedung megah PARA Group di depannya, yang berlantai hingga 27. “Ini Iwan, kawan saya” kata Mas Riza. Ucapan yang langsung disambung dengan uluran tangan kanan sambil menyalami setiap orang yang sedang nongkrong di sana “Iwan..” katanya memperkenalkan diri dengan senyuman. Pertemuan yang kemudian mungkin mengarahkan karir IAS di Trans TV sebagai Kepala Divisi.
Interaksi saya paling banyak dengan IAS aalah saat saya dipercayai untuk memegang satu unit bernama News Program Development, atau NPD, atau dikembangkan dengan nama RCD -Research, Content and Development- sekarang. Hampir setiap hari saya berdiskusi dengannya tentang berbagai program. Minimal seminggu sekali setelah rating mingguan keluar di hari Rabu, sudah bisa dipastikan saya akan duduk di ruang akuarium tempatnya bekerja. Ruang yang kini terbagi dua, peruntukan untuk ruang Kepala Departemen News Bulletin and Current Affair, Gatot Triyanto, dan ruang Kepala Departemen News Magazine and Documentary, Sulaeman Sakib. Pada masa itulah, saya mengenal sisi lain dari televisi. Sisi bisnisnya. Sisi yang kemudian menciptakan term Entertaining News, menurut Winadardi Satryotomo, atau Mas Tomi, sekarang bekerja di PT. Adhi Karya Visi, yang memiliki merk dagang Astro TV. Di ruang kaca itulah kemudian saya menyerap ilmunya.
-to be continued-
407. ishadi sk
“malam pak is”…tidak enak sekali rasanya tadi malam berpapasan dengan dia. Sialnya saya tidak sempat menghindari papasan itu. Maklum saja, saya hanya menggunakan celana northface hitam yang lebih mirip dengan training panjang olehraga dan kaos quicksilver biru tua. Dua-duanya belel, karena saya membelinya di pasar gedebage seharga 25ribu untuk keduanya, hampir 5 tahun yang lalu. Papasan dengan dia selalu saya hindari sejak saya melawan kewajiban menggunakan seragam di tempat saya bekerja. Pak is adalah direktur utama di tempat saya bekerja.

Caption : Pak Is sebelum melakukan wawancara dengan Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, akhir 2004, untuk program Hitam Putih RI-1 : Dalam Catatan Ishadi SK.
Pada akhir 2004, saya bekerja bersamanya. Bekerja dalam artian sebenarnya, karena dia menjadi host untuk program tv dokumenter yang saya kerjakan, bukan sebagai direktur utama di tempat saya bekerja. Pilihan menggunakan pak is, Ishadi SK, karena dialah salah satu wartawan senior, yang saya kenal dekat dan berada dekat dengan tempat saya bekerja (ya iya lah..), dan yang lebih penting, dia adalah salah satu wartawan yang mengalami 6 masa kepresidenan, dari mulai Soekarno, Soeharto, Habibie, Gusdur, Megawati dan terakhir SBY.
Banyak cerita yang disimpannya. Dari mulai politik, hingga bisnis televisi. Dialah yang meyakini bahwa industri televisi bisa dibangun di atas 2 basis kepentingan yang saling bertentangan, yaitu idealisme dan bisnis. Dia percaya bahwa kedua hal itu bisa disinergikan.
Suatu saat, saya akan menyengajakan diri berpapasan dengan Pak Is dan meminta waktunya untuk berbincang sejenak tentang kesibukannya, tentang masa lalunya, tentang pandangan masa depannya…Dan saya tidak akan segan lagi karena walau saya tidak memakai seragam
401.make up
Adalah hal biasa menggunakan bedak dan alat-alat kosmetik lain sebelum pengambilan gambar untuk pembuatan film atau program televisi. Biasanya, waktu normal untk me-make up muka sebelum pengambilan gambar adalah selama setengah hingga 1 jam. Lamanya bisa berubah saat skintone aktor/artis/presenter atau narasumber yang diwawancara lebih gelap atau lebih mudah berminyak, apalagi bila wajah mereka disemprot lampu sebesar 3000-5000 watt. Atau bila dalam film yang menggunakan special effect, bisa memakan waktu hingga berjam-jam. Hanya untuk 1 scene pendek saja. Maka jangan pernah remehkan make up artist. Dan dalam profesi saya sebagai camera person, kewajiban saya adalah selalu membawa bedak kemana-mana.
319.ri-1
Sebagai orang nomer 1 di suatu negara besar, dengan luas wilayah luar biasa besar, 1.904.556 km2, serta jumlah penduduk 1.904.556 km² dan jumlah penduduk yang juga luar biasa, mendekati 250 juta jiwa, maka tak heran Susilo Bambang Yudhoyono harus tampil baik di depan kamera. Beruntunglah delvi, seorang kawan yang sekarang bekerja di Astro Awani, stasiun TV berlangganan milik orang Malaysia, yang berkesempatan memegang megang wajah penguasa negara dengan 250 juta jiwa.

Hahaha..Cerita ini nostalgia saja. Gambar di atas adalah suasana sebelum wawancara antara Ishadi SK dengan Presiden RI ke 6 -setelah Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, Abdurahman Wahid (Gus Dur), dan Megawati Soekarno Putri- untuk pembuatan dokumenter TV berjudul HITAM PUTIH RI-1 : Dalam Catatan Ishadi SK. Dari ke 6 nama di atas, kami hanya berhasil mewawancarai 3 di antaranya. Soekarno sudah tiada, Soeharto entah bagaimana cara bisa menembusnya untuk wawancara dan BJ Habibie terlewat begitu saja karena alasan dana.
Anw, dokumenter ini menjadi nominasi dalam Festifal Film Indonesia Kategori Dokumenter pada tahun 2005, dan akhirnya hanya mendapatkan penghargaan khusus saja di festival yang sama. Karena pembuatan dokumenter inilah, saya jadi tidak mendapatkan kesempatan berangkat ke Aceh saat tsunami terjadi di akhir tahun 2004. Saat itu saya sedang melakukan proses paska produksi, mengejar deadline jadwal tayang. Satu peristiwa maha dashyat, yang saya tidak terlibat dalam peliputannya sama sekali. Saya baru kembali ke Aceh tahun 2006 lalu, setelah mauk ke Aceh sejak tahun 2002 untuk liputan di sana. Ah sudahlah.






