::sudutruang

Archive for August 24, 2007

413. bersiaplah kawan

protes

Caption : Foto ini di ambil di depan lift keluar lantai 3 beerapa tahun lalu, tepatnya saya lupa. Latarbelakang warna warni yang terlihat adalah dinding yang ditempeli kupon makanan, seharga 7500 rupiah, kupon yang kami pergunakan untuk makan siang kami yang biasanya berharga sekitar 9000 rupiah sekali makan. Saat itu, kupon yang tertempel disana merupakan kupon-kupon yang tiba-tibanya jadi tidak berharga samasekali padahal masa berlakunya masih jauh dari kadaluarsa –saat itu kami diberi kupon sebulan sekali, disesuaikan dengan waktu hari kerja– Penyebabnya adalah terjadi penipuan besar-besaran. salah seorang pegawai di general affairs memalsukan kupon makan tersebut hingga perusahaan dirugikan sebesar 350 juta rupiah. Saya protes, kenapa gara-gara kesalahan orang lain, hak makan siang kami dihilangkan selama bulan berlaku?!!!

..karena saya hendak meloncat sekarang. Meloncat menuju ketinggian. Melepas tanah pijakan. Saya sedang bersiap sekarang.

..karena kesal saya sudah sangat jauh berkurang

409. ahmad sudirwan

Saya coba cari lewat pencari sakti google, dan saya tidak menemukan jejaknya disana. Saya merasa perlu melakukan searching ini, karena kemarin malam, saya mendengar kabar, bahwa Iwan Ahmad Sudirwan resmi “meminta” mengundurkan diri dari TRANS TV. Entah dengan kata “meminta” atau TANPA kata “meminta”. Jelas memberi arti yang jauh berbeda.

Saya ingat pertama kali saya mengenalnya lewat suaranya. Saat itu konferensi pers di Istana Negara. Saat itu Gus Dur memegang posisi sebagai RI-1. Tiba-tiba di sebelah kanan saya, di ujung sana, sambil mengacungkan tangan seseorang memanggil untuk bertanya “GUS…” suara yang luar biasa…tidak ada reporter lain yang bersuara sebesar dan seberat itu tapi tetap dengan intonasi yang enak didengar, bukan intonasi berteriak.

ahmad iwan sudirwan

Caption : iwan Ahmad Sudirwan, bertopi, berfoto bersama band dangdut lantai 3 (taken from http://satrioarismunandar6.blogspot.com/)

Iwan Ahmad Sudirwan, IAS, kepala divisi news trans tv sejak tahun 2001, melengkapi Riza Primadi, RP, sebagai direktur pemberitaan saat itu. IAS mengurusi urusan anak-anak ke dalam, sementara RP lebih mengurusi urusan bapak-bapak di luar.

Tak lama berselang setelah mendengar suaranya, saya kembali bertemu, lebih tepatnya berpapasan sejenak dan sempat bersalaman untuk pertama kalinya, di markas lama Trans TV, sebuah bedeng kontraktor. Saat itu gedung Trans TV ynag berlantai 9, tanpa lantai 4, tapi diganti lantai 3A, masih belum berdiri. Yang ada hanya warung indomie khas lokasi pembangunan gedung di belakangnya. Hamburan semen debu dan lumpur masih berserak di udara. Ya…apatah lagi gedung megah PARA Group di depannya, yang berlantai hingga 27.  “Ini Iwan, kawan saya” kata Mas Riza. Ucapan yang langsung disambung dengan uluran tangan kanan sambil menyalami setiap orang yang sedang nongkrong di sana “Iwan..” katanya memperkenalkan diri dengan senyuman. Pertemuan yang kemudian mungkin mengarahkan karir IAS di Trans TV sebagai Kepala Divisi.

Interaksi saya paling banyak dengan IAS aalah saat saya dipercayai untuk memegang satu unit bernama News Program Development, atau NPD, atau dikembangkan dengan nama RCD -Research, Content and Development- sekarang. Hampir setiap hari saya berdiskusi dengannya tentang berbagai program. Minimal seminggu sekali setelah rating mingguan keluar di hari Rabu, sudah bisa dipastikan saya akan duduk di ruang akuarium tempatnya bekerja. Ruang yang kini terbagi dua, peruntukan untuk ruang Kepala Departemen News Bulletin and Current Affair, Gatot Triyanto, dan ruang Kepala Departemen News Magazine and Documentary, Sulaeman Sakib. Pada masa itulah, saya mengenal sisi lain dari televisi. Sisi bisnisnya. Sisi yang kemudian menciptakan term Entertaining News, menurut Winadardi Satryotomo, atau Mas Tomi, sekarang bekerja di PT. Adhi Karya Visi, yang memiliki merk dagang Astro TV. Di ruang kaca itulah kemudian saya menyerap ilmunya.

-to be continued-