::sudutruang

Archive for November, 2007

503.upgrade

Saya hendak turun mesin. Menurunkan mesin, membersihkan kerak yang menempel, mengikisnya. Menganti  olinya yang telah mengental menghitam. Viskositasnya  sudah terlalu tinggi kemarin. Saya hendak ganti menggantinya menggunakan ol sintetis yang kata beberapa penggila ciamik melumasi mesin yang sudah bekerja penuh selama beberapa tahun. Mungkin saya juga hendak mengganti beberapa sukucadang yang rusak karena berkarat. Pertengahan desember nanti ya.

497.kawan

sebersalah apapun seorang kawan, maka dia tetaplah kawan. kawanlah yang akan mengingatkan kawannya dengan cara yang sesuai. cara yang hanya  antar sesama kawanlah  yang mengerti.

493.semangat baru

ya…sekarang saya bersemangat. Sejumlah lecutan saya terima dalam 2 minggu terakhir ini. Telpon tentang pekerjaan, rapat-rapat marathon tentang ide liputan, kesempatan belajar, di ingatkan tentang asal usul diri saya. Dan tentu saja bayangan tentang tercapainya impian membahagiakan jagoan dan bidadari di rumah sana.

Terimakasih untuk kembali membangunkan saya. Saya yang terlelap jenuh dengan aktifitas yang itu-itu saja.  Campuran lecutannya pas sekarang. Tak  lemah hingga tak berasa, tapi juga tak keras hingga meninggalalkan bekas.

Terimakasih untuk kawan-kawan, reporter dan kameramen, yang membuat saya mau tak mau harus menjaga semangat saya. Terimakasih juga untuk saudara serumah di tanah leluhur sana, yang tak pernah saya ingat muka sebelumnya, yang telah mengingatkan saya mengenai asal usul saya.

Thx :)

491. gelar (untuk auliah hazza)

Friday, March 12, 2004

Silungkang, 26 Februari 2004
Kepada Kemenakanda Rian
di Bandung

Assalammualaikum wr.wb

Dengan ringkas saja Mak Itin sampaikan pada Rian, Mak Itin sangat gembira sekali mendengar kabar dari Papa Rian kalau Rian ingin memakai gelar pusako kita mengingat gelar itu tidak saja merupakan kebanggaan tapi juga merupakan harga diri dari kaum kita.

Karena sebentar lagi Rian akan dewasa secara adat, maka Rian berhak memakai gelar apakah itu gelar pusako atau gelar pecahan. Adat kita di Silungkang menyatakan ketek banamo godang bagola. Ketek dan godang batasnya adalah berumahtangga. Gelar yang akan Rian pakai ini adalah gelar pusako kita yaitu Khotik Bosa artinya Khatib Besar.

Juga Mak Itin sampaikan pada Rian tulislah gelar ini selalu di belakang nama Rian agar gelar ini jadi selalu diingat orang dan juga jaga baik-baik gelar ini. Mak Itin mengucap selamat pada Rian dan sekaligus berpesan jangan sampai Mama dan Papa bak mamaga karambia condong. Ingat adik Rian!! Karena di Minang, kita menganut paham kekeluargaan. Mak Itin juga mohon maaf tidak dapat menghadiri resepsi pernikahan dan perhelatan, juga Mak Itin mohon maaf pada Papa dan Mama.

Hanya sekianlah dahulu surat dari Mak Itin.

Wassalam

Syahrudin Dt Rangkayo Bosa

—-

Saya kaget. Takojuik kalau dalam bahasa leluhur saya. Bagaimana tidak, suatu posting di blog lama, yang kemudian saya pindahkan ke blog ini dikomentari oleh orang satu leluhur. Namanya Uni Auliah Hazza. Salam kenal dari saya untuk Uni. Saya adalah orang Silungkang yang besar di perantauan. Sejak umur 4 tahun saya telah bermulim di Bandung. Kota yang sekarang saya anggap sebagai rumah saya, tempat saya pulang kampung. Silungkang adalah tanah leluhur, tanah tempat saya berziarah. Tempat dimana bahasa yang saya pergunakan sehari-hari –yaitu bahasa silungkang, bukan bahasa padang– berasal. Bahasa yang saya pergunakan untuk berkomunasi dengan orangtua saya di Bandung. Bahasa yang hingga kini tetap saya kuasai.

Saya kaget. Takojuik kalau dalam bahasa leluhur saya, karena komentar uni tentang gelar adat, ternyata bukan komentar terhadap gelar adat yang saya terima –sejujurnya saya tidak pernah bermimpi untuk mendapatkan gelar adat, apalagi satu gelar adat yang berarti khatib agung/besar, sedangkan agama islam yang saya anut saja masih jauh dari kepalang– melainkan gelar adat yang ditempelkan pada nama ninnik mamak penghulu adat dalimo jao suku supanjang, SYAHRUDIN DT RANGKAYO BOSA, yang tercantum di bagian tanda tangan paling bawah dari surat yang beliau kirim pada saya tanggal 12 Maret 2004.

Inilah komentar Uni :

—–

Mohon diluruskan gelar Panghulu Suku Supanjang (Dalimo Jao) yang sekarang seharusnya hanya Datuk Bosa. Jadi bukan Datuk Rangkayo Bosa. Hal ini berdasarkan buku Silungkang Membangun, edisi 003/BSM/MAR/1999.

Dan juga hasil rekaman kaset (taktumbin) Silungkang didalam Upacara Adat, Pepatah Adat juga mengatakan Panghulu Suku Supanjang itu dalam Gayung Basambut Penerimaan Marapulai di rumah Anak Daro hanya dihimbau cukup DATUK BOSA.

Lebih lanjut hal ini boleh bertanya ke kanan dan kekiri baik Pamangku Adat di Silungkang atau mantan-mantan ketua KAN di 5 suku yang ada di Silungkang atau kepada mantan-mantan Ketua KAN yang terdahulu. Sebab ada seorang, orang tua yang tahu adat istiadat atau mengenai gelar-gelar di Silungkang memberikan arahan kepada saya. Saya sebagai generasi muda Dalimo Jao Suku Supanjang ingin mendengarkan gelar Panghulu Pucuak suku Supanjang adalah DATUK BOSA BUKAN DATUK RANGKAYO BOSA. Sebab yang namanya DATUK RANGKAYO BOSA adalah gelar adik dari DATUK BOSA tersebut di zamannya beliau ingin menikah dan memakai gelar.

Sekali lagi yang namanya gelar Panghulu suku Supanjang adalah DATUK BOSA, TITIK.

Atau perlu juga diseminarkan atau dengar pendapat dari 5 Panghulu Pucuak yang ada sekarang atau orang tua yang mengerti adat dan mantan-mantan panghulu yang di Silungkang

——

Mengenai ini Uni, mengenai tidak adanya gelar panghulu pucuak suku Supanjang bertulis DATUAK RANGKAYO BOSA, sebenarnya saya tidak mengetahuinya. Gelar itu bukan gelar saya. Sayapun tidak mengetahui bahwa yang ada HANYA gelar DATUAK BOSA. Untuk itu saya ucapkan banyak terimakasih pada Uni.

Pengetahuan saya tentang adat istiadat kampung saya benar-benar cetek. Mungkin sama ceteknya dengan pengetahuan saya tentang agama. Itulah sebabnya saat surat itu dibacakan saya seperti ditumbuk durian jatuh. Saya takut memalukan pemilik gelar ini pertama kali. Dan mungkin Uni juga bisa memberikan saya pelajaran tentang gelar adat yang saya terima? yaitu KHOTIK BOSA. Adakah gelar ini benar adanya? Apakah proses pemberian adat ini sudah benar adanya?

Ketidaktahuan saya tentang adat, sebenar-benarnya bukan karena orang tua saya tidak mengajari, tetapi lebih karena saya tidak mau diajari dan menjadi bebal. Terkadang terasa –sebagian atau mungkin hanya sebagian kecil– yang seolah meletakkan adat di atas agama. Sesuatu yang tidak dapat saya terima walau saya tidak begitu beragama.

Saya sangat tertarik dengan tanah leluhur saya. Terutama karena saya kemudian tahu bahwa pemberontakan kaum sosialis pertama kali terjadi di sana pada tahun 1927. Suatu saat saya ingin pulang ke tanah leluhur hanya untuk bertanya pada orang-orang tua tentang peristiwa itu.

O iya, mungkin suatu saat kita bisa berjumpa Ni. Pergaulan saya dengan orang silungkang tidak sebanyak pergaulan saya dengan orang-orang dari daerah lainnya. Pergaulan saya terbatas pada saudara-saudara dari tanah leluhur yang sering bertemu dengan orang tua saya. Dan kebetulan mereka lebih banyak bukan berasal dari dalimo jao, tapi dari tanah sirah. Maklum, ibu saya adalah anak paling bungsu dari istri ke 4 kakek saya, yang kemudian ditinggal wafat nenek saya, saat dia belum berusia 1 tahun.

Berkenalan dengan Uni mungkin bukan saja akan menambah pengetahuan saya tentang silungkang, yang saya yakin tidak hanya berkutat pada soalan gelar adat, tetapi juga pada hal lainnya, menyangkut adat istiadat, budaya dan bahkan mungkin tentang sejumlah stereotip orang silungkang yang kata nya pencong dan pancemeeh.

Terakhir, terimakasih untuk mengingatkan saya pada tanah leluhur. Tanah yang tidak mungkin aknan pernah saya lupakan karena keindahan dan keramahan masyarakatnya.

Cheers.

487. solusi

Apa solusi untuk penanganan sampah? Suatu pertanyaan tiba-tiba. Bagi saya sendiripun terasa tiba-tiba. Tetapi saya harus membaca mengenai in karena saya akan terlibat dalam pitching ide pembuatan dokumenter tentang sampah. Tepatnya tentang Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS) di Bandung.

Salah satu link yang cukup lengkap ada di sini

481. absen

479. jejaring

Jejaring!!! Saya akan kumpulkanmu dalam buku alamatku.

***

Kini saatnya mengumpulkan kembali seluruh ingatan tentang individu-individu luar biasa yang telah memberikan saya kehidupan, pertemanan, kekeluargaan, kebaikan, kebejatan, ilmu pengetahuan, keterampilan…