::sudutruang

Archive for my dreams

539.lastpost

on 2007. hope on 2008 i’ll get a better place to roam.

503.upgrade

Saya hendak turun mesin. Menurunkan mesin, membersihkan kerak yang menempel, mengikisnya. Menganti  olinya yang telah mengental menghitam. Viskositasnya  sudah terlalu tinggi kemarin. Saya hendak ganti menggantinya menggunakan ol sintetis yang kata beberapa penggila ciamik melumasi mesin yang sudah bekerja penuh selama beberapa tahun. Mungkin saya juga hendak mengganti beberapa sukucadang yang rusak karena berkarat. Pertengahan desember nanti ya.

197.nasi jadi bubur

nasi telah jadi bubur. .

kawan saya memulai usahanya dari frase ini sepertinya. sekarang dia berjualan bubur dengan kategori organik. bubur organik.  ”gua mau jadi tukang bubur aja yung, karena gua dah pusing kerja di aceh. bisa gila gua dengan kelakuan orang-orang disana

haha…37% inflasi tanpa putaran sektor riel yang bisa membuat roda ekonomi berputar memang rumus yang berbahaya. tak bisa mengandalkan hanya jasa.

kembali ke bubur organik tadi. . 

buburnya organik. karena tidak memakai campuran bahan kimia. pun rasa gurihnya dia dapatkan dari campuran bumbu-bumbu alami. kecap asinnya nya didapat dari saripati entah ikan apa. resep orang cina kata dia. kecap manis saja yang pabrik punya. capnya bango katanya. ada janji tanpa bahan kimia masalahnya.

sayang. saya belum sempat mencobanya. rasanya ingin ikut saja berjualan bubur yang sama.

ya…

nasi telah jadi bubur

183. inginnya tahun 2007…

satu saja. masakah satu saja saya tidak bisa membuatnya. masakah satu saja saya tidak bisa menjadikannya. tak perlu berdurasi panjang. 3 menitpun cukup. 3 menit yang sangat kuat. 3 menit yang sangat-sangat kuat.

ya. untuk saya, tahun 2007 nanti haruslah tahun yang menghasilkan satu karya hasil kerja diri sendiri. 3 menit adalah apologi yang tidak layak untuk diungkapkan. tapi 3 menit itu jadi penyemangat saya. karena 3 menit saja sudah bisa menceritakan satu cerita. ada beberapa  ide liar yang belum juga tereksekusi hingga kini. banyak sebabnya. lebih banyak lagi penyebabnya. bagaimana kaau lebih dari 3 menit saja kalau begitu? :)

untuk itu saya harus berlibur. ya, berlibur. berlibur dari tergesa-gesa mengejar segala status dan pujian. berlibur dari himpitan beban pekerjaan yang tidak menjadikan saya diri saya sendiri. biar mereka yang menyesuaikan dengan ritme saya. biar mereka yang akan mengerti saya. tempat kerja saya yang saya cintai ini terkadang mengubur cita-cita saya. tapi saya tetap mencintainya. mungkin bukan salahnya. tapi salah saya sendiri tentunya.

179. hotli dan nanik

Keduanya adalah guru-guru saya. Keduanya adalah jurnalis-jurnalis tangguh di Nangroe Acheh darussalam. Keduanya adalah orang yang telah berbaik hati mengajarkan banyak hal tentang aceh kepada saya. Terimakasih bu nani, terimakasih bang hotli.

Ingat sekali, pertamakali saya mendapatkan penugasan untuk Aceh adalah pada tahun 2002. Saat itu Panglima GAM masih Tgk Abdullah Syafi’i. Panglima memerintahkan mogok kerja selama tiga hari saat ulang tahun GAM. Inilah penugasan yang membuat saya keder, hingga terbawa ke mimpi malam hari, satu hari sebelum berangkat ke Banda Aceh menumpang pesawat Garuda. Reporter saya Anita Purba, yang sebelumnya bekerja di GATRA.

“Normal yung, lu takut atau keder itu normal. Lu butuh itu agar lu jadi lebih hati-hati dalam menjalankan tugas. Gua gak mau nerima kabar buruk tentang lu disana”

Chief -ku lah yang mengatakan perkataan di atas. Baginya, rasa takut itu perlu ada pada seorang camera person seperti saya. Dengan itu saya akan lebih hati-hati. Yang salah, katanya lagi, adalah bila saya tidak dapat melawan rasa takut saya.

Ketakutan saya berkurang saat saya bertemu dengan Nani dan Hotli. Bagaimana tidak, hampir tiap hari, saat kondisi Aceh tidak sebagus sekarang, foto Hotli selalu keluar di Media Indonesia, tempatnya bekerja dulu sebelum kemudian pindah ke AFP dan sekarang menjadi kontributor untuk salah satu TV Swasta Indonesia. Nani sendiri adalah reporter yang menulis untuk Jakarta Post hingga sekarang. Nani pun saat itu masih bekerja untuk Serambi seingat saya. Bagaimana tidak lebih tenang, mereka berdua adalah jurnalis-jurnalis yang telah bekerja di wilayah konflik aceh lama.

Kemarin malam, 3 hari sebelum perayaan 2 tahun tsunami kembali saya berbincang dengan Nani, Hotli tidak ikut berbincang karena dia harus rapat dengan tim televisinya yang datang dari Jakarta.

Kami berbincang seru tentang dokumenter, tentang keinginan dan gairah saya, tentang syariah islam di sini, tentang peluang-peluang membuat dokumenter di aceh sini hingga tentang cita-cita saya yang sama dengan Hotli untuk memiliki sebuah kamera sony pd170 saja. Saya pinjamkan juga DVD pinjaman saya, DVD yang dibuat dengan bantuan Jan Vrijman Fund di Belanda sana. Dokumetner mengenai epidemik operasi hidung oleh perempuan (bahkan laki-laki) di Iran sana.

Thanks Nani..

Thanks Hotli..

I learn a lot from both of u guys…

177.finish it damn it

“Harus tahu kapan waktunya untuk berhenti”

Itulah salah satu lagi quote yang saya ingat setelah mengikuti master class jiffest di Parsley Restoran Senayan Sabtu minggu lalu. Hal ini terutama diungkapkan Adrian Bellic, yang mengerjakan documentary dengan gaya terjun bebas ke dalam kolam dan ntar baru dia mencari apa yang menarik didalamnya. Kemudian dia lanjutkan “walaupun saat kamu berhenti, documentary yang kamu buat hanya berdurasi 3 menit saja”

Fiuhhhh. . .

Susahnya bagi saya adalah karena saya mengidap sindrom 99% (siapa yang mengatakan ini ya???)  Ya, selalu merasakan sesuatu yang saya kerjakan kurang 1% dan itu artinya belum selesai.

Damn!!!!

173.documentary filmmaker wanna be, desperately actually…

“cita-cita saya adalah menjadi pembuat film dokumenter… i wanna be a documentary filmmaker, not a Journalist (with a big J)”. Saya katakan ini pada Juminten (bukan nama sebenarnya) , reporter cantik yang sama-sama bekerja di divisi pemberitaan sebuah televisi swasta di Indonesia yang tiga minggu terakhir berturut-turut berada dalam urutan kedua setelah RCTI. Dia tampak kaget. Sayapun tidak merasa aneh dia kaget. Wong jarang-jarang saya bisa ngobrol dengan kembang lantai 3 ini. Dan sebenarnya tidak banyak juga yang tahu mengenai cita-cita saya ini, walaupun saya jenjreng di halaman profil friendster saya. Who cares!!

I do!

Ya…saya menikmati mempunyai cita-cita sebagai pembuat film dokumenter. Saya rasa itulah yang membuat otak di dalam kepala saya, yang rambutnya sedikit saja ini, terus bekerja dengan ritmenya. Ritme yang kadang cepat dan lebih banyak lambatnya.

Saya menikmati sensasi gairahnya..sensasi gairah yang pastinya, tentu saja, sekali lagi pastinya, berbeda dengan gairah saya pada orang-orang nan cantik dan seksi pula layaknya Juminten di depan saya ini. Gairah ini memacu keingintahuan saya tentang suatu peristiwa. Gairah pada yang satu lagi entah akan membawa saya hingga kemana…

Mungkin gairah ini muncul karena saya memiliki kemerdekaan untuk menentukan sendiri hendak kemana cerita ini akan dibawa. Mungkin?. . .

Looks like it should said as ‘indeed’

Ya, karena saya di izinkan untuk bersikap subyektif dalam membuat film dokumenter. Bahkan sangat subyektif.   ”That’s fine, documentary is a film made by filmmaker’s subjectivity ” Adrian Bellic said. Sementara sebagai Journalist saya dimintakan, walau rasa-rasanya tidak juga diharuskan, untuk tidak berpihak (tapi siapa yang tahu pasti bahwa seorang Journalist tidak berpihak). Dan saya memilih untuk bersikap subyektif secara terang-terangan. Sehingga orang lain melihat dimana posisi saya berada saat bercerita mengenai suatu peristiwa dalam bentuk gambar dan suara.

Gak penting juga untuk orang lain, tapi sangat penting untuk saya, karena dengan cita-cita itu di dalam kepala saya, maka saya terus mengali gairah di dalam diri saya. Documentary filmmaker wanna be…that’s exactly what i wanna be.

163.too much

Sudah beberapa hari ini, jari jemari menari dia tas tuts komputer, mencari dan mencari hal-hal menarik yang bisa ditindaklanjuti. Kepala saya penuh dan terus melakukan putaran. Tapi . . . belum juga menemukan cara bagaimana hal-hal yang memenuhi ruang pikiran saya ini dapat memungkinkan untuk dikejar.

Ah, mungkin saya agak melebih-lebihkan. Sebetulnya hanya ada dua hal yang sudah dan tetapi sedang coba saya kenal. Satu hal berjarak sangat dekat dengan posisi saya sekearang, sementara satu hal-nya lagi tersebar ada di mana-mana. Yang dekat agak bingung dengan restunya. Pemberian ijin ini penting untuk didapatkan karena dengan ini saya mempunyai kesempatan lebar untuk menjalankan. Sementara yang jauh belum-lah selesai ditemukan siapa-siapa nya yang ada disana yang bisa dilanjutkan untuk lebih dikenal.

Menulis seperti diatas serasa menulis saat menggunakan buku coretan yang terbuat dari kertas-kertas bekas, dulu saat masih di sekolah menengah atas. Mohon dimaafkan, saya hanya perlu melepaskan isi di dalam pikiran. Biarlah hanya saya saja yang mengerti.