::sudutruang

Archive for my interest

581. lego, rubik, origami, pocoyo dan wordworld

ya. tidak lebih dari itu yang membantuku berbahagia :)

563. “Elus Ombaknya…”

Begitu ucap Pak Tohiri, sang nakhoda kapal ekspedisi garis depan nusantara malam itu. Kapal saat itu sedang dalam posisi berlindung di antara pulau sebesi dan pulau sebuku. Di kejauhan, tertutup perbukitan pulau sebesi, terlihat muntahan lava berwarna jingga kemerahan, menyala dari puncak anak krakatau.

Sebesi-Sebuku terletak di mulut selat sunda, dan sudah termasuk dalam wilayah propinsi lampung. Posisi sebesi dan sebuku kebetulan membendung angin yang kencang dan ombak yang besar. Tohiri memutuskan untuk masuk di sela kedua pulau kecil tersebut.

“Kita buang jangkar disini aja yah…” begitu katanya pada Haris Mulyadi, ketua tim ekspedisi kapal dari Wanadri. “Ombak yang tadi kita lewatin memang besar yung…mungkin mencapai 3 meter…dan anginnya…anginnya yang penting juga besar dan berlawanan arah dari kita” begitu kata dia menjelaskan terombang ambingnya kapal selama hampir 6 jam di perairan selat sunda. “Jiga lawang tah tuh, pintu dibuka…angin masuk lewat pintu itu” Sobri, salah seorang anak buah kapal, menambahkan. Perumpamaan pintu yang terbuka dengan kondisi selat sunda yang diapit pulau jawa dan sumatera, memperjelas semuanya.

Ombak memang mencapai 3 meter sore hingga malam itu. Frekuensi ombak di lunas kapal pun terasa kerap, rapat..”mung kerep ombakna, berarti anginna masih gede keneh yung” begitu kata ruri, anak buah kapal lainnya yang sekaligus merupakan anak kandung Tohiri”

***

http://www.kompas.com/travel/ekspedisi
EKSPEDISI GARIS DEPAN NUSANTARA
Orang-Orang Di Balik Layar
Selasa, 13 Mei 2008 | 21:57 WIB

Nahkoda dan anak buah kapal adalah orang-orang yang memiliki peran penting suksesnya Ekspedisi Garis Depan Nusantara. Sepak terjangnya jarang terekspos karena mereka memang orang-orang yang lebih banyak bekerja di balik layar.

Tetapi, tanpa mereka, mengarungi lautan dari satu pulau ke pulau lainnya dalam selama berbulan-bulan tak akan bisa dilaksanakan. Mereka adalah orang-orang yang tahu betul ke mana KM Deklarasi Djuanda harus berlayar, kapan harus berhenti, hingga menaklukkan ganasnya lautan sampai ke setiap titik tujuan. Ada seorang nahkoda kapal dan dua ABK yang ikut dalam ekspedisi tahap pertama ke pulau-pulau terluar Indonesia bagian barat.

TOHARI, Nahkoda

Tohari, laki-laki berumur 56 tahun asal Labuhan Pandeglang Jawa Barat ini adalah nahkoda KM Deklarasi Djuanda yang akan menghantarkan Ekspedisi Garis Depan Nusantara. Ayah 6 orang anak ini sudah memulai pekerjaannya menjadi nahkoda sejak tahun 1972, saat ia berumur 20 tahun. Keinginannya untuk mengelilingi Indonesia sudah menjadi impiannya sejak dulu, meskipun ia sudah pernah menjelajahi samudra, mendatangi Padang, Sulawesi, dan Mentawai. Keahliannya mengemudikan kapal, dipercaya tim ekspedisi untuk menahkodai KM Deklarasi Djuanda, kapal baru buatan PT Carita Boat Indonesia.

RURI, ANAK BUAH KAPAL

Ruri, salah satu anak buah kapal yang turut dalam ekspedisi Garis Depan Nusantara ini adalah putra dari bapak Tohari, nahkoda KM Deklarasi Djuanda. Pria yang lahir 26 Februari 1980 ini selalu menemani ayahnya mengelilingi samudra, seperti Padang, Sulawesi, dan Mentawai sudah pernah ia datangi. Ia menginginkan pengalaman yang lebih menantang dalam perjalanannya mengelilingi Indonesia kali ini.

SOBRI, ANAK BUAH KAPAL

Sobri, anak buah kapal KM Deklarasi Djuanda ini adalah partner Tohari sejak lama bersama dengan Ruri. Laki-laki yang lahir 2 Maret 1974 ini juga sudah mendatangi Padang, Sulawesi, dan Mentawai bersama timnya Bapak Tohari dan Ruri. Dalam perjalanannya kali ini ia ingin menaklukkan lautan di seluruh Indonesia bersama tim ekspedisi Garis Depan Nusantara.(C5-08)

559. Tentang Ekspedisi Garis Depan Nusantara Wanadri

“Bro…baru kali ini gua ngerasain takut yang berlebih saat ditugasi untuk pergi liputan naik perahu” ujar saya pada seorang kawan. Takut berlebihan. Itulah yang saya rasakan. Pembenaran saya tentang rasa takut itu karena perahu yang akan digunakan adalah perahu berukuran kecil, dengan awak kapal yang tidak saya ketahui siapa orangnya. Kapal yang akan saya naiki tersebut bernama lambung KM DEKLARASI JUANDA. Kapal berbobot 40 ton tersebut adalah kapal penangkap ikan yang disulap menjadi kapal ekspedisi. “Tuh kembaran kapal ini” ujar Budi Suchaeri, pemilik PT. Carita Boat Indonesia, yang menyumbangkan kapal penangkap ikan buatan pabriknya, untuk disulap menjadi kapal ekspedisi.

Sabtu malam itu, tanggal 10 Mei 2008, Budi Suchaeri meyakinkan saya terhadap keamanan dan kenyamanan kapal tersebut.

“Kapal ini dirancang sebagai kapal penangkap ikan di lautan dalam. Karenanya haluan (bagian depan kapal) kapal dirancang tinggi dan lancip. Fungsinya untuk memotong gelombang dari depan”.

Penjelasan ini dapat saya terima.

“Tapi kok bagian samping dan buritannya (bagian belakang kapal) sangat rendah. Pembatas samping kapal pun (entah apa namanya di perkapalan) hanya dibentengi setinggi 40cm saja” begitu pikir saya dalam hati. Tapi… sudahlah, apapun yang akan terjadi, terjadilah. Saya akan menikmati rasa takut saya kali ini bersama 8 orang lainnya, yang terdiri dari 3 orang anggota wanadri (Kang Haris, Ayonk dan Sambas), 2 orang relawan rumah nusantara (Pak Didi dan Kang Eko), 1 orang dosen anthropologi (Teh Susi), 2 orang anak buah kapal (Obi dan Ruri) dan seorang kapten kapal (Pak Tohiri).

***

Saya hanya ikut perjalanan kapal selama 8 hari. Selama 8 hari tersebut saya tidak sampai di salah satu pulau terluar yang dituju. Ijin saya berlayar, yang diberikan oleh kantor, hanya 10 hari. Enggano…sayang saya belum bisa menjangkaunya..lainkali mungkin. Untunglah Kompas membuat menu tersendiri untuk ekspedisi ini, di http://www.kompas.com/travel/ekspedisi

Silahkan buka. Saya sengaja meng-copy paste catatan harian di menu tersebut dalam blog ini dengan tag ekspedisi, wanadri, pulau terluar, kompas. Mudah-mudahan tidak jadi masalah.

553.orangbiasa

http://bukan-tokohindonesia.com

karena ingin sekali menampilkan cerita tentang orang-orang biasa. orang orang yang memberi inspirasi. orang orang yang tak harus memberi satu kontribusi besar dalam skala. karena saya percaya, kecil itu indah..sayangnya, media lebih suka bertanya pada orang-orang besar, orang-orang utama, subyek….

maka, biarlah saya mengumpulkan orang-orang yang menjadi obyek,  orang yang melakukan hal kecil untuk negara, tapi melakukan hal besar untuk dirinya sendiri atau keluarga…

551..katanya suharto mati

kalau sby ngasih pengampunan padanya. kalau sby memberi pengampunan, maka harta warisan nya, yang dikelola oleh anak-anaknya akan tetap berada di tangan mereka.  anak-anak yang aneh.

mudah-mudahan ‘kata-katanya di atas tadi’ tidak ditiru oleh anak-anak kita. kejam sekali, mempertukarkan rasa sakit dan penderitaan orang tua dengan harta.

551.katanya suharto mati

“yung…suharto mati!” kata niki charles laoh sambil menggerakkan tangannya ke arah leher, gerakan seperti memenggal. saya ragu. saya buka tempointeraktif.

—-

Kondisi Soeharto Gawat
Jum’at, 11 Januari 2008 | 21:14 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Keadaan mantan presiden Soeharto hingga pukul 17.00 WIB dilaporkan dalam konsidis gawat. Kesadaran pengusa Orde Baru tersebut menurun.

“Pernapasannya memburuk, cepat, dan dangkal,” ujar Ketua Tim Dokter Kepresidenan, Mardjo Soebiandono, di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), malam tadi (11/1).

Tekanan darah Soeharto juga menurun menjadi 90/45 MMHg. Hingga saat ini tim dokter masih melakukan pertolongan bantuan nafas dan pemberian obat-obatan dalam mengantisipasi kondisi gawat Soeharto. “Sampai saat ini upaya tersebut masih tetap dilaksanakan,” ujar Mardjo.

Sementara itu, sekitar 30 menit yang lalu, Wakil Presdien Jusuf Kalla bersama Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa kembali datang mengunjungi Soeharto. Sebelumnya, anak bungsu Soeharto, Hutomo Mandala Putra dan menantunya Halimah sudah menunggu di lantai 5. Desy Pakpahan

—–

saya buka lagi detik dotkom, di berita pukul 21.05 terpampang tajuk “soeharto sangat kritis, terpaksa ditidurkan”. dalam berita itu mardjo soebiandono, ketua tim dokter kepresidenan mengatakan “kondisinya sangat kritis sekali sehingga terpaksa ditidurkan dengan alat bantu napas ventilator

521.closingday

i enjoy the process. it’s a wonderful pitching session that i have” ucap saya pada michael sheridan, sesaat setelah keluar dari theatre 1 Djakarta XXI, yang memutarkan film penutup jiffest 2007, cerita para perempuan (chant of lotus), yang sekaligus merupakan premier pemutaran film tersebut. 7 ide film dokumenter dipaparkan oleh  9 orang peserta, masing-masing :

“Bandung Garbage Factory” by Stania Puspawardhani and me

“Cerita Kursi Roda” (The Wheelchair Story) by arief Luqman Hakim and Angga Wedhaswara

“The Final Exam” by Ali Usman

“Layar Tancep Dogel” (Life and Death of Dogel’s Cinema) by Endah WS

“Nur Idham Bin?” (Justice for All) by Masrur Jamaludin

“Rumah Gila” (Haven for Insanity) by Dria Soetomo

“Smarabumi” ( Religion of Earth) by Kisno Ardi

***

nur idham bin by masrur jamaludin and dogel’s cinema by endah ws!”, tan ping pin –salah seorang juri saat  pitching, selain michael sheridan dan tantyo bangun– mengumumkan pemenang documentary script development. Masing-masing memenangkan 2500 euro untuk penggunaan yang berbeda. Endah menerima untuk produksi, sementara Jamal menerima untuk finalisasi script-nya. Slamat yaa..

“Kali pertama sekalu menggoda” hhmmm, itu dia sepertinya. Karena itulah kali pertama saya melakukan pitching ide di forum yang sama sekali berbeda dengan yang biasa saya alami di tempat saya bekerja sehari-hari 7 tahun terakhir. Kali pertama ini meng-inspirasi saya mengenai banyak hal. Inspirasi yang ide dasarnya telah terkumpul cukup lama. Thanks untuk stania yang sudah menyertakan saya sebagai director dalam proposalnya. “Ini jadi batu pijakan awal gua stan, banyak ide yang ada di kepala, dan gua tau ide-ide itu adalah ide-ide yang layak untuk dijual”.
***

“anjis ni susan bachtiar dashyat banget!” begitu pikir saya saat menonton sketsa atau antologi ke-4 atau antologi terakhir dalam film cerita para perempuan. mungkin karena susan dapaetin jiwa filmnya, yang pastinya tidak mungkin lepas dari sutradara, Lasja F.Susatyo.

“saya senang sekali melihat mbak di film itu”, kata saya. saya ‘bela-belain’ menghampiri susan bachtiar di pintu keluar gedung XXI. Hahaha…saatu hal yang saya tahu sangat jarang saya lakukan, nyalamin artis. Tapi saya tahu dia bukan artis sekedar artis. Dia adalah guru TK. san dia bermain ’sangat cantik’ di film itu menurut saya.

517.harikedua

Karena hari pertama sudah terlambat datang, maka pada hari kedua saya berusaha keras untuk datang tepat waktu. Saya ingat ujaran seorang teman “orang belanda itu tepat waktu, lu bahkan ga bisa bikin janji ama dia kalau short notice atau mendadak”, dan Leonard adalah orang belanda.

Angga, Arief, Endah dan Dria. Empat orang kawan sesama peserta JifFest 2007 documentary script development. Angga, lengkapnya Angga Wedhaswara. Dalam perkenalan yang saya dengar hari pertama, dia adalah alumni fakultas pertanian Unpad. Baru lulus. Belum bekerja. “agronomi kang” jawabnya saat saya tanya jurusan apa yang dia ambil di fakultas pertanian. Sekilas, tak terlihat kalau dia adalah seorang yang nyeni. Tapi idenya untuk melakukan performance menggunakan kursi roda menunjukkan cara pikir seorang seniman. Mengingatkan saya pada beberapa orang teman di Studi Teater Mahasiswa (STEMA) ITB dulu. Boim misalnya, anak jurusan Geofisika Meteorologi angkatan 94 yang sempat jadi ketua STEMA dan sekarang bergiat di dunia IT.

“Ikut gabung di GSSTF ngga?” tanya saya untuk memastikan dugaan. Ternyata dia menjawab tidak. “Dulu sebelum masuk Unpad pernah kesana, tapi gak ikutan”. tapi dia mengenal Imam, violist, headliner nya Rindu Order, orkes keroncong yang selalu rindu order, tapi saya meng order mereka untuk ulang tahun jurusan di Grand Hyatt Bandung dulu.

Angga mengajukan proposal dokumenter berjudul wheelchair story. Cerita mengenai kursi roda. Angga lah yang mempunyai ide melakukan performance kursi roda, untuk membuktikan bahwa fasilitas kota untuk pemakai kursi roda, sama sekali tidak bersahabat. Tidak hanya fasilitasnya saya kira, tetapi penduduknya pun tidak bersahabat terhadap para pemakai kursi roda.  “Setelah kira-kira 12 angkutan umum yang saya stop, akhirnya angkot ke-13 mau menaikkan saya kedalam mobilnya”.

See…..????

Angga adalah pemilik ide performace, namun ide itu tidak akan lengkap tanpa ada  Arief. Arief Luqman Hakim lengkapnya. Dialah yang mendokumentasikan performance Angga menggunakan kursi roda. Arief lulusan fakultas yang sama. Hanya saja dia lebih tua dari Angga. Seniornya tepatnya.

Ide Angga dan Arief berasal dari dokumenter berjudul Super Size Me, yang bercerita mengenai obesitas di Amerika, karya Morgan Spurlock. Spurlock hendak membuktikan kemudian, bahwa obesitas disebabkan oleh adanya junkfood terutama yang berasal dari produk Mc Donald.

Saya suka ide mereka. Sederhana dan realistis. Premis mereka jelas. Logline nya juga. Sinopsisnya apalagi. Tokoh? Mereka menggunakan diri mereka sendiri untuk menjadi tokoh utama dalam cerita mereka. Kelemahan satu-satunya saya kira hanya pada produksi nanti, yaitu slapstik atau adanya directing berlebihan dalam eksekusinya. Dramatisir dalam porsi yang berlebihan akan mengakibatkan cerita ini kehilangan roh dan pesannya.

***

“Endah we-es” jawabnya saat saya tanya nama lengkapnya. WS adalah singkatan dari nama belakangnya, saya lupa kepanjangannya. Reporter RCTI, alumni kampus yang sama dengan saya. Tapi dia senior saya. Fakultas kita sama, tetapi jurusannya berbeda. Dia alumni Arsitek angkatan 1992. Sempat aktif di Wanadri sebelum kelulusanya di tahun 1997.

Cerita yang diajukan Endah adalah tentang seorang pemilik layar tancep bernama dogel. Endah membayangkan ceritanya adalah cerita yang satir, komedi yang satir tepatnya. Karena hiburan layar tancep kini sedang dalam proses penggusuran, digantikan oleh organ tunggal. “Kenapa tidak dijadikan cerita tentang fungsi layar tancep sebagai aktivias komunal yang hampir punah”, Jamal menyarankan.

Cerita tentang ini memang rawan dianggap ide cerita yang biasa. Namun kekuatan tokoh dogel rasanya akan menjadi kekuatan utama. Sementara bisnis hiburan rakyat adalah plot ceritanya.

Satu lagi.

Dria. Lengkapnya Dria Soetomo. Aslinya Dwiwati Riandhini Soetomo. Alumni ITS Jurusan Desain Produk. Dia produser expedition di Metro TV sekarang. sebelumnya sempat bekerja jadi reporter di Investor dan Gatra. Juga sempat di O Channel, televisi lokal Jakarta. Jangan bayangkan dia macho. Karena Dria adalah cewek berbedan kecil berambut merah yang dipotong pendek. Tak merokok dan selalu memakai jaket di ruang ber-AC.

Dria mengajukan proposal dokumenter tentang Rumah Gila di Bekasi Barat yang dikelola seorang engkong betawi lanjut usia. Tua sekali malah. 90 tahun. Idenya adalah membandingkan antara perawatan orang sakit jiwa di rumah sakit jiwa dengan di rumah gila tersebut. Belum ada konflik di idenya. Tokohnya pun belum sekuat topiknya. Itulah yang saya pikir saat saya mendengar paparannya.

Ide besar tentang orang berpenyakit jiwa merupakan ide yang sarat dengan konflik. Pengobatannya saja meninggalkan banyak konflik. Pasti akan menjadi cerita yang sangat kuat bila Dria bisa menemukan tokoh dan angle cerita yang berbeda dengan yang dia ajukan.

511.haripertama

Terlambat 15 menit. layaknya orang eropa lainnya, walau fasih berbahasa indonesia, dan berdarah sebagian jawa dari ibunya, Leonard Retel Helmrich telah memulai sesinya pada hari pertama workshop documentary script development jiffest 2007. Di bangku melingkar, yang kursinya dibalut menggunakan kain putih berbahan stretch itu telah duduk 8 orang, melingkar membentuk hurup U. Leonard berada di tengah-tengah bagian mulut huruf U yang terbuka. Sendiri tentu saja. 6 orang lelaki dan 2 orang perempuan. 3 laki-laki di garis tegak sebelah kanan yang membentuk huruf U, yaitu nosa, ardi dan angga. Kemudian Arief, Ali dan Jamal merupakan 3 laki-laki yang duduk di bagian mendatar dari huruf U. Sementara 2 perempuan, endah dan dria, duduk bersampingan garis tegak sebelah kiri yang membentuk huruf U. Awalnya saya duduk di luar meja kursi berbentuk huruf U. Tapi kemudian dipersilakan duduk di sebelah kiri. Di tempat yang baru terisi 2 orang. Tapi kemudian pindah ke sisi kanan.

“Leonard, ini temannya stania, teman satu tim stania” ujar Ali lantang, saat saya memperkenalkan diri. Itulah yang membuat saya harus ikut duduk di kursi berlapis kain putih strecth yang masih kosong, disamping Dria. Ali,a tau lengkapnya Ali usman, adalah residivis workshop jiffest documentary script development. Tahun lalu, Ali juga ikut serta sebagai salah satu peserta, sama seperti Stania, hanya saja saat itu cerita yang dia tawarkan adalah tentang musafir. Musafir? “Ya, kisah tentang pengembara” jawabnya saat saya tanya. Pengembara itu kemudian sepertinya dimetaforakan sebagai pencari Tuhan. Sufism. Tahunini, ksiah yang ditawarkannya berbeda. Dia ajukan tema tentang ujian akhir nasional yang akhir-akhir ini menjadi kontroversi. Proposal Ali kemudian didiskusikan pada sesi ke 4, sesi terakhir hari itu. Ali belum mendapatkan tokoh utama dalam ceritanya. Dia hanya mengatakan “adalah itu! sebut saja namanya Koni, dia laki-laki”

Entah bagaimana, kemudian dari kiri saya berpindah ke kanan. Yang jelas, kemudian nosa, lengkapnya Nosa Normanda, menawari saya untuk berpindah tempat duduk di samping kanannya. Nosa pindah ke sebelah kiri, di kursi yang juga masih kosong. Nosa Normanda adalah seorang mahasiswa sastra inggris yang bertugas sebagai penerjemah yang disediakan oleh panitia jiffest script development. Nosa sempat mengomentari beberapa proposal yang harus dia edit lagi karena melakukan penerjemahan menggunakan software transtool, tapi bukan di kelas dokumenter, melainkan di kelas feature. “Kayak ngebuat script ulang jadinya” ucapnya.

Awalnya saya duduk diapit oleh nosa dan ardi, namun kemudian Ardi berpindah tempat duduk pada sesi ke 3, menghadapi ibook putihnya yang dijadikan player untuk memutar video yang hendak diperlihatkan Angga dan Arief. Kisno Ardi, adalah seorang pembuat film dokumenter asal Yogya. Tahun 2005 dia adalah pemenang workshop iffest short documentary script development. Hanya saja dia terdaftar dengan nama Kisno Adi saat itu. Pemenang lainnya untuk kategori yang sama tahun itu adalah Ucu Agustin dan Veronika Kusuma. Tahun ini Ardi proposal dokumenter berjudul Smarabumi. Agama Bumi sepertinya terjemahannya. Tahun ini dia mengajukan proposalnya untuk long script development sebenarnya.

Selain Stania, Ali, dan Ardi, masih ada satu nama lagi yang merupakan anggota residivis, yaitu Masrur Jamaludin, atau dipanggil Jamal. Tahun 2004, Jamal memenangkan beasiswa film dokumenter pemilu indonesia 2004 yang diselenggarakan oleh internews indonesia bekerjasama dengan in-docs, yang didanai oleh UUnited States Agency for International Development (USAID) dan The Communication Assistance Foundation -Stichting Communicatie Ontwikkelingssamenwerking (CAF/SCO). Dokumenter itu berjudul Sing Penting Nyoblos. Film ini bercerita tentang cara pandang 3 orang perempuan pekerja, mbok-mbok yang bekerja di pasar Beringharjo Jogjakarta, terhadap pemilu 2004. Tahun ini, di jiffest 2007 short documentary script develoment, dia mengajukan proposal dokumenter yang berjudul justice for all. Rencananya film ini akan bercerita tentang kekerasan dalam rumah tangga, yang dialami oleh seorang perempuan yang agak terbelakang. Perempuan ini diperkosa oleh majikannya hingga hamil dan akhirnya dia melahirkan anaknya.

Hebat kan. Saya beruntung bisa ikut begabung dalam workshop yang berisikan orang-orang hebat yang telah pernah membuat film dokumenternya sendiri.

Masih ada 4 orang lagi yang belum saya ceritakan, yaitu Angga, Arief, Endah dan Dria. Ke-4 nya adalah peserta baru untuk workshop ini. Tapi ke-4 yang tidak kalah hebatnya dibandingkan 4 orang yang tadi saya ceritakan.

–bersambung–

507.capo

beberapa hari yang lalu, berawal dari pesan offline di yahoo messenger, dari id blauloretta, id milik gustaff h.iskandar, pemilik common room network, lembaga yang memfokuskan diri untuk pengembangan media dalam segala bentuknya -menurut persepsi saya-, saya membuka website lembaga ini. selama november, banyak sekali kegiatan yang dilakukan oleh lembaga ini. hampir semuanya berhubungan dengan industri kreatif, dlam segala bentuk variannya. satu yang paling menarik bagi saya adalah posting tentang capo.

capo??? apapula ini???

awalnya saya sangka sebuah seni instalasi, dengan menggunakan poster-poster yang bergambar sesosok tubuh berbentuk astronot -hehehe, khas cara melihat orang awam. karena yang saya buka pertama adalah kumpulan foto-foto tempelan gambar capo ini. saya penasaran. kemudian coba saya googling kata kunci capo.tak ada jawaban yang mendekati di halaman pertama. malas membuka halaman kedua dan slanjutnya. saya cek lagi ke commonroom. ternyata ada disana. semua keterangan tentang apa itu capo. kindly check it

***

menarik. karena capo didefinisikan sebagai custome-toy, yang secara khusus diciptakan untuk memicu para seniman dan desainer lokal untuk berkarya di bidang desain karakter untuk boneka (www.heterologia.multiply.com).

dan menjadi semakin menarik, karena capo di soft launch dengan mengundang 50 individu, seniman dan desainer, yang berasal dari bandung, jakarta dan jogja; yang diminta untuk menyulap si capo yang tanpa karakter menjadi ber-karakter. karakter yang bisa jadi menandakan karakter sang seniman/desainer.

***

bayangan saya kemudian adalah “apakah yang terjadi bila capo-capo ini dipertemukan dengan rombongan boneka si unyil. boneka generasi 80-an dipertemukan dengan boneka generasi 2000. antara pak raden dengan tim aeworx no label stuff.

andaikan mereka bertemu. pasti akan seru. dan saya ingin ada disana saat itu.

Older entries »