::sudutruang

Archive for ekspedisi garis depan nusantara wanadri

563. “Elus Ombaknya…”

Begitu ucap Pak Tohiri, sang nakhoda kapal ekspedisi garis depan nusantara malam itu. Kapal saat itu sedang dalam posisi berlindung di antara pulau sebesi dan pulau sebuku. Di kejauhan, tertutup perbukitan pulau sebesi, terlihat muntahan lava berwarna jingga kemerahan, menyala dari puncak anak krakatau.

Sebesi-Sebuku terletak di mulut selat sunda, dan sudah termasuk dalam wilayah propinsi lampung. Posisi sebesi dan sebuku kebetulan membendung angin yang kencang dan ombak yang besar. Tohiri memutuskan untuk masuk di sela kedua pulau kecil tersebut.

“Kita buang jangkar disini aja yah…” begitu katanya pada Haris Mulyadi, ketua tim ekspedisi kapal dari Wanadri. “Ombak yang tadi kita lewatin memang besar yung…mungkin mencapai 3 meter…dan anginnya…anginnya yang penting juga besar dan berlawanan arah dari kita” begitu kata dia menjelaskan terombang ambingnya kapal selama hampir 6 jam di perairan selat sunda. “Jiga lawang tah tuh, pintu dibuka…angin masuk lewat pintu itu” Sobri, salah seorang anak buah kapal, menambahkan. Perumpamaan pintu yang terbuka dengan kondisi selat sunda yang diapit pulau jawa dan sumatera, memperjelas semuanya.

Ombak memang mencapai 3 meter sore hingga malam itu. Frekuensi ombak di lunas kapal pun terasa kerap, rapat..”mung kerep ombakna, berarti anginna masih gede keneh yung” begitu kata ruri, anak buah kapal lainnya yang sekaligus merupakan anak kandung Tohiri”

***

http://www.kompas.com/travel/ekspedisi
EKSPEDISI GARIS DEPAN NUSANTARA
Orang-Orang Di Balik Layar
Selasa, 13 Mei 2008 | 21:57 WIB

Nahkoda dan anak buah kapal adalah orang-orang yang memiliki peran penting suksesnya Ekspedisi Garis Depan Nusantara. Sepak terjangnya jarang terekspos karena mereka memang orang-orang yang lebih banyak bekerja di balik layar.

Tetapi, tanpa mereka, mengarungi lautan dari satu pulau ke pulau lainnya dalam selama berbulan-bulan tak akan bisa dilaksanakan. Mereka adalah orang-orang yang tahu betul ke mana KM Deklarasi Djuanda harus berlayar, kapan harus berhenti, hingga menaklukkan ganasnya lautan sampai ke setiap titik tujuan. Ada seorang nahkoda kapal dan dua ABK yang ikut dalam ekspedisi tahap pertama ke pulau-pulau terluar Indonesia bagian barat.

TOHARI, Nahkoda

Tohari, laki-laki berumur 56 tahun asal Labuhan Pandeglang Jawa Barat ini adalah nahkoda KM Deklarasi Djuanda yang akan menghantarkan Ekspedisi Garis Depan Nusantara. Ayah 6 orang anak ini sudah memulai pekerjaannya menjadi nahkoda sejak tahun 1972, saat ia berumur 20 tahun. Keinginannya untuk mengelilingi Indonesia sudah menjadi impiannya sejak dulu, meskipun ia sudah pernah menjelajahi samudra, mendatangi Padang, Sulawesi, dan Mentawai. Keahliannya mengemudikan kapal, dipercaya tim ekspedisi untuk menahkodai KM Deklarasi Djuanda, kapal baru buatan PT Carita Boat Indonesia.

RURI, ANAK BUAH KAPAL

Ruri, salah satu anak buah kapal yang turut dalam ekspedisi Garis Depan Nusantara ini adalah putra dari bapak Tohari, nahkoda KM Deklarasi Djuanda. Pria yang lahir 26 Februari 1980 ini selalu menemani ayahnya mengelilingi samudra, seperti Padang, Sulawesi, dan Mentawai sudah pernah ia datangi. Ia menginginkan pengalaman yang lebih menantang dalam perjalanannya mengelilingi Indonesia kali ini.

SOBRI, ANAK BUAH KAPAL

Sobri, anak buah kapal KM Deklarasi Djuanda ini adalah partner Tohari sejak lama bersama dengan Ruri. Laki-laki yang lahir 2 Maret 1974 ini juga sudah mendatangi Padang, Sulawesi, dan Mentawai bersama timnya Bapak Tohari dan Ruri. Dalam perjalanannya kali ini ia ingin menaklukkan lautan di seluruh Indonesia bersama tim ekspedisi Garis Depan Nusantara.(C5-08)

559. Tentang Ekspedisi Garis Depan Nusantara Wanadri

“Bro…baru kali ini gua ngerasain takut yang berlebih saat ditugasi untuk pergi liputan naik perahu” ujar saya pada seorang kawan. Takut berlebihan. Itulah yang saya rasakan. Pembenaran saya tentang rasa takut itu karena perahu yang akan digunakan adalah perahu berukuran kecil, dengan awak kapal yang tidak saya ketahui siapa orangnya. Kapal yang akan saya naiki tersebut bernama lambung KM DEKLARASI JUANDA. Kapal berbobot 40 ton tersebut adalah kapal penangkap ikan yang disulap menjadi kapal ekspedisi. “Tuh kembaran kapal ini” ujar Budi Suchaeri, pemilik PT. Carita Boat Indonesia, yang menyumbangkan kapal penangkap ikan buatan pabriknya, untuk disulap menjadi kapal ekspedisi.

Sabtu malam itu, tanggal 10 Mei 2008, Budi Suchaeri meyakinkan saya terhadap keamanan dan kenyamanan kapal tersebut.

“Kapal ini dirancang sebagai kapal penangkap ikan di lautan dalam. Karenanya haluan (bagian depan kapal) kapal dirancang tinggi dan lancip. Fungsinya untuk memotong gelombang dari depan”.

Penjelasan ini dapat saya terima.

“Tapi kok bagian samping dan buritannya (bagian belakang kapal) sangat rendah. Pembatas samping kapal pun (entah apa namanya di perkapalan) hanya dibentengi setinggi 40cm saja” begitu pikir saya dalam hati. Tapi… sudahlah, apapun yang akan terjadi, terjadilah. Saya akan menikmati rasa takut saya kali ini bersama 8 orang lainnya, yang terdiri dari 3 orang anggota wanadri (Kang Haris, Ayonk dan Sambas), 2 orang relawan rumah nusantara (Pak Didi dan Kang Eko), 1 orang dosen anthropologi (Teh Susi), 2 orang anak buah kapal (Obi dan Ruri) dan seorang kapten kapal (Pak Tohiri).

***

Saya hanya ikut perjalanan kapal selama 8 hari. Selama 8 hari tersebut saya tidak sampai di salah satu pulau terluar yang dituju. Ijin saya berlayar, yang diberikan oleh kantor, hanya 10 hari. Enggano…sayang saya belum bisa menjangkaunya..lainkali mungkin. Untunglah Kompas membuat menu tersendiri untuk ekspedisi ini, di http://www.kompas.com/travel/ekspedisi

Silahkan buka. Saya sengaja meng-copy paste catatan harian di menu tersebut dalam blog ini dengan tag ekspedisi, wanadri, pulau terluar, kompas. Mudah-mudahan tidak jadi masalah.