me!
“seven.. six.. five.. four.. three.. two.. one… QIU!!!! Di tengah tengah hitungan mundur untuk siaran langsung dari lapangan di REPORTASE SORE itulah saya menerima sms peringatan dari Mbak Siti Nurorofiqoh yang baik hati “..hanya anda yang belum mengirim biodata..” tercetak digital di 2115 lecet saya. (april, 2007)
***
Saya bukan penulis. Itu sudah jelas.
Saya lebih suka menterjemahkan profesi saya sebagai video journalist/camera person. Jurnalis yang bercerita melalui gambar dan suara… sebuah profesi yang sekarang saya lakoni. Beberapa kawan bertanya “kenapa lu ga mengaku sebagai tv news producer (orang yang memproduksi acara di televisi-red)?”.
Produser adalah penugasan menurut saya. Sama seperti seorang dokter yang ditugaskan untuk menjadi direktur sebuah rumah sakit, dia seharusnya bukan berprofesi sebagai direktur. Profesi dia tetap sebagai dokter yang ditugaskan untuk mengatur sebuah rumah sakit. Jadi inilah saya, seorang pemanggul kamera video yang ditugaskan menjadi produser di sebuah TV swasta nasional di Indonesia.
Saya sudah bekerja di TRANS TV sejak tahun 2001. Berbagai macam alat untuk bekerja telah saya kencani. Dari mulai kamera video betacamSP yang beratnya 12 kg, pundak saya hingga kini uratnya gingsul tetap, hingga pekerjaan yang dianggap membosankan yaitu mencermati monitor komputer 15inch yang men- jengjrengkan deretan data performance program TV yang terdiri dari deretan angka-angka, bersusun dalam 1440 baris (60menit X 24 jam) dan terbagi dalam 7 kolom (hari Minggu hingga Sabtu), menonton TV terus menerus untuk kemudian membandingkan dengan data tadi dan kemudian mencari strategi perbaikan program untuk mendapatkan performance tv rating/tv share yang lebih baik. Ya, melakukan sejenis pekerjaan market research denganmenggunakan data dari AGB Nielsen (Nilesen Media Research) di News Program Development TRANS TV.
Berbagai program sudah saya jalani, dari mulai program berita harian dengan pacing kerja yang cepat hingga program yang menuntut kesabaran tinggi karena dikerjakan dalam pacing yang jauh lebih lambat, yaitu membuat program dokumenter yang tayang hanya pada event-event tertentu. Sehingga, saya bisa mengatakan bahwa saya menguasai pembuatan produksi dalam format audio video di televisi. Dari mulai ide untuk mendesain suatu program hingga eksekusi dan tayangnya. Dari pra produksi sampai paska produksi. Dari hulu sampai hilir.
Intinya selama ini, semua hal yang berhubungan dengan teknis pengerjaan audiovisual saya pelajari (pengambilan gambar, penyutradaraan, dan editing). Tetapi…rasa-rasanya ada yang kurang dalam diri saya. Menulis
Ya, kemampuan untuk menulis suatu laporan yang bercerita. Fakta yang ditulis secara nyastra. Atau ngetop dengan terminologi jurnalisme sastra. Menulis panjang dan memikat merupakan satu keterampilan lagi yang saya inginkan untuk mendukung sebuah tujuan yang saya tetapkan untuk diri saya sendiri. Bidang inilah yang saya rasa terlewat saya pelajari. Padahal kemampuan menulis yang bercerita inilah yang akan melengkapi alat-alat yang telah saya kuasai sebelumnya (desain produksi, teknik kamera, lighting, audio dan editing visual). Kelengkapan kemampuan yang akan membantu mewujudkan cita-cita saya yaitu –paling tidak satu kali dalam seumur hidup- membuat film dokumenter saya sendiri dengan konsep cerita saya sendiri.
3 Comments »
uda buyung?
best friend..
nice brother..
very good teacher..
yang jelas…teman sharing yang sangat menyenangkan…
Your comment
HTML-Tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>




what a job! gak pernah gue bayangin kerjaan elu yang ini, yung. really